Yohanes Bandung Bondowoso

Archives

This is the content of my previous blogs on Wordpress , and collective of my poems with the dates only by memory.
Most of them are in Indonesian.
Most of them I wrote in my naïve days.


8/10/18 Tidur

- #indonesian#blog

memang tidur itu perlu.

ada teman yang paling khawatir akan jam tidurku.

di samping temanku kebanyakan yang berharapku terjaga bersama untuk bergaul,

atau komputer dan buku yang selalu berharap aku menemani mereka belajar atau bekerja.

sampai saat itu, satu jam lalu

pulang dari kantor, kupaksakan berkendara.

hari ini memang belum kurasakan bantal kasur, apalagi meja kantor di pipiku.

perjalanan pulang penuh teriakan nyanyian berbagai upaya agar tetap terjaga.

dua simpang jalan lagi, satu kilometer lagi sampai rumahku.

namun kesadaranku terputus di atas jok motor.

setang tanpa sadar doyong ke timur, kecepatan enampuluh.

saat terjaga terkejut, aku sudah di tepi kanan jalan, roda motor masih berputar kencang.

kukendalikan kemudi agar lurus jalannya.

tepat ketika truk enam roda meraung melewati sisi kiriku, kencang.

sepanjang tiga puluh delapan kilometer aku aman, namun saat sampai area rumah, seperti diberi ilham.

tidurlah yang cukup.

jangan sampai tulang remuk karena kau abaikan tidur.

maka sampai rumah, cuci muka sikat gigi.

masuk ke kamar orang tua, menyelinap di kasur mereka di antara sepasang yang merawatku paling tulus.

aku tidur di antara orang yang paling menyayangiku.

bukan karena mumpung masih ada kesempatan.

tapi karena akupun sayang mereka.

terima kasih.

semesta, Tuhan, kesadaranku,

aku hidup.


Tunguska

- #indonesian#story#picture

17 April 2451, Yogyakarta. Hari bersejarah yang membanggakan bangsa Indonesia! Trio Jenius ilmuwan muda Phoebe Danuvich Kulistyo, Kindrad Bumi, dan Rinaldo Stevan-Mulia berhasil menciptakan mesin waktu, atau lebih tepatnya, memberitakan ciptaan mereka ke publik sebelum dibungkam oleh badan penjaga perdamaian.

12 Juni 2451, ——-. Perencanaan dan pengamanan matang sudah siap, demonstrasi mesin waktu pada khalayak umum oleh trio jenius akan diadakan di-

30 Juni 2451, Cirebon. Tepian pesisir, kaca anti-nuklir 50x30m, 1300 elit pengaman, tiket masuk Rp 30.000.000 per satuan. Tiga ribu pemirsa di amphi-theatre dan 4,2 Miliar dari layar hologram di seluruh dunia.
Kamera lintas-waktu siap, Danu-Kindar-Aldo berjalan tembus portal biru.

????????, ekstraDimensi. Steker penanda menunjukkan -543 tahun, sesuai pungutan suara masal di era mereka, trio jenius berjalan lintasi ratusan tahun dan 7500km menuju-

30 Juni 1908, Tunguska-Vanavara. Matahari sudah terbit 3 jam, portal jingga terbuka ~140m di atas pepinusan. Kindar mengabadikan lanskap Siberia dengan sel-kamera untuk dokumentasi pribadi. Aldo telah merangkai kamera lintas-waktu, untuk memuaskan hasrat sponsor dan miliaran pemirsa di kampung waktu mereka.
Entah konspirasi pembungkaman yang berhasil atau kesalahan kalkulasi, ketika Danu mengaktifkan kamera lintas-waktu, nyala biru memaksa masuk dari portal jingga.
Itu biru hantam jingga, leleh Danu-Kindar-Aldo seketika menyublim sirna. Lantak membuat 2150km persegi pinus merata. Satu orang slav malang terkena sontak suara yang melempar tubuhnya ke batang pinus, jasadnya remuk, leta.

Artist Rendition of Tunguska Event by Don Davis
Tunguska Event by Don Davis
Artist Rendition of Tunguska Event by Don Davis
Tunguska Event by Don Davis

+543tahun -2507detik, Cirebon. Layar raksasa sempat menampilkan lanskap Tunguska-Vanvara, Siberia. Pemirsa pongah terpesona, kerabat trio jenius menangis bangga.
Awalnya pelan tak disadari, lalu portal biru mendadak tilap, ditelan dirinya sendiri. Tampilan layar bergetar tremor, lalu biru, lalu jingga, lalu sirna. Lalu-


Kisah Seram Pendek

- #indonesian#story#picture

Tangga
Tangga

Hei
— apa?
Kapan dia turun?
— kurang tahu, tidak usah ditunggu, dia sedikit pemalu.
Kau yakin dia ramah?
— mungkin sih
Mungkin! Kau ambil resiko dengan astral, dan tidak tahu apa yang akan terjadi?
— kau sendiri yang ingin melihatnya sejak kuceritakan tentang itu!
Lagi, kau bilang setiap Minggu pukul 2 siang, rumahmu harus dibiarkan kosong selama 10 menit!
— iya! orangtuaku tidak pernah menjelaskan penyebabnya! tapi si cenayang itu yang menjelaskan semuanya padaku!
Sial, menantang hantu.
— kau yang mengajak, kupikir kau berani. orangtuaku baru pulang setelah 3 hari?
Jam berapa sekarang?
— oh tidak.
Jangan bilang sudah lewat masanya?
— tidak, sekarang jam 2 lewat 4.
Tidak ada apa apa kan?
— sebentar.
Apa?
— sini kubisikkan.
Apa.
— ada bunyi di tangga.
Heh?
— aku tidak tahu bentuknya, tapi setelah melihatnya, jika salah satu dari kita berteriak, langsung lari berdampingan ke pintu de..
AAAAAAAAAAH!


Manusia

- #indonesian#blog

Illustration of word Human in Heptapod typography
Human in Heptapods, from movie Arrival (2016)
Illustration of word Human in Heptapod typography
Human in Heptapods, from movie Arrival (2016)

Coklat, Kuning, Merah, Putih, tetap Homo Sapiens. Beda ukuran hidung, mata ataupun penis, tetap satu spesies, lalu menyesuaikan dengan habitat dan kerasnya hidup. Cara berpikir dan harta hanya konsep. Tempat sekolah, berpolitik dan rohani berteguh harusnya tidak menciptakan spesies baru.
Heptapod aja bersedia membantu dan minta bantuan manusia. Masa lu pecah?


Ya


kan?


Tragedi di Senin Pagi

- #indonesian#poem

Mimpi apa aku semalam?
Menjadi saksi tragedi nan kelam
Stasiun Manggarai, pada Senin pagi


Seakan semesta mengingatkanku
akan nasehat yang sering dilontarkan
     ibuku
-Kasih rapi sepatu dan tasmu!
-Jangan boleh hewan kecil masuk!


Dari jendela kereta lihat ku
Seorang ibu berdiri tenang
     di peron stasiun
Merogoh tas di depan dadanya
Tiba-tiba
Terlunjak kaget
Itu kelabang merembet
     dari dalam tas


Ia panik terjun ke rel
Kereta tujuan Bogor datang menghujam
Mimpi apa aku semalam?


—entah dapet ide darimana, ditulis di atas Commuter Line tujuan Cikini—


7 Langkah Hidup Bijak

- #indonesian#story#picture

rencana sudah matang, berdiri di tepi lautan.

iman terhunus, siap sambut Leviathan. ia menyerang, aku menyerang, menusuk jiwa dan anak tekak. maka matilah semua kecemburuan. itu bangkainya mengambang pelan, bau.

lalu dengung serangga terdengar. Beelzebub datang kelaparan. jasad itu dilahap kalap, rakus bak tikus politikus. penuh keyakinan, berseru ku. lalat terkejut, terbang memburai ketakutan.

kulanjutkan dengan menyelam, menuju palung terdalam. Memasuki goa, penuh gairah aura merah. Asmodeus melenguh, sibuk entoti jiwa-jiwa pasrah. dengan kesadaran penuh, ku kebiri binatang itu. biar jera.

menyusuri goa, berujung singgasana. duduk di atas takhta, Mammon si hedon. tak henti merenggut harta dari orang sengsara. itu harta kuambil, kutebar ke para papa. maka iblis itu menciut, tak punya apa apa.

terdengar deru amarah dari Amon yang kehilangan saudaranya. kuhindari semua desing panah, lalu kuurapi wajah bajingan itu, yang langsung mati terbakar.

gerbang utama terlihat jelas, dijaga penjaga malas. Belphegor meringkuk di dalam tempurungnya, tidak peduli akan tugasnya. kunyalakan api kepercayaan, kusulut karapaks itu. maka ia terjaga, terbirit-birit mencari pertolongan.

di dalam ruangan besar, bercahaya. Azazel yang penuh talenta, tapi hubris menguasainya. kuajak ia untuk sadar, menjadi pribadi berguna. sial, pertarungan tak terelakkan. ia melawan dengan penuh kuasa. “aku setara, bahkan lebih berkuasa!”. kulempar biji sesawi, menghantam jiwanya.


sirna.
maka terbitlah Kebajikan.

photo of me, by the beach
photo of me, by the beach

—15 Juni, 3 hari setelah ulang tahun, akhirnya sadar bahwa ulang tahun tidak mengulang event indah di tahun sebelumnya—


Innocent Souls

- #indonesian#blog

Beda bahasa, beda pulau, beda tanah air.

Kunjungan ke Bali kemarin bertepatan dengan kejadian yang membuat gua sempat bertemu dengan saudara yang terpisah jauh dari Australia. Mereka adalah dua anak-anak yang sempat menjalani ujian Sparta. Tangguh.

Setelah lama nggak ngobrol dengan anak-anak yang masih polos, mereka serasa tombol refresh. Apalagi mereka adalah pribadi yang menyenangkan, dan seperti partner berlatih bahasa Inggris(menggunakan logat mereka sendiri, HAHA).

Entahlah, gua ngerasa kehidupan mereka adalah perjuangan yang menyenangkan, dan sampai perjumpaan berikutnya, mereka masih tetap berjuang. I wish you good luck buds! May the force be with you!


See ya sooner!


Retak, Seperti Porselen

- #indonesian#blog

Lagu dan film bisa jadi sumber kita untuk menyalurkan rasa, untuk pelampiasan, untuk motivasi, untuk mawas diri.

Judulnya, 500 Days of Summer, genre filmnya (bukan)cerita percintaan, inti yang gua tangkap adalah si Sutradara membuat film ini bagi orang kaya gua, yang terperangkap pada satu insan, hanya karena beberapa momen indah yang dirasakan.

Mimpi-mimpi indah yang gua rasakan bareng kamu cuma membunuh secara perlahan. Baiiiiiklaaah, gua tangkap maksud lo. Oke. Nih, gua ucapkan selamat tinggal. Saatnya mulai keluar. Mari kita tersesat.

Mungkin lagu Porcelain dari Moby bisa menjadi media gua menyalurkan rasa ini.


In my dreams I’m dying all the time …

So this is goodbye, this is Good Bye …

Tell the truth, you never wanted me

Tell me

In my dreams I’m jealous all the time

As I wake I’m going out of my mind.


Going out of my mind.


Ditulis Saat Gua Bosan

- #indonesian#blog

Apakah kalian pernah merasakan kompor tidak seasik nesting?
Bata merah lebih bersih daripada sikat dan pasta gigi?
Menyerut dan mengolah sagu lebih memuaskan daripada masak nasi?
Melayang lebih unik daripada tidur?

Gua merasakan hal itu. Gua merasa bosan.

picture of Choir Group from my church
Koor Paroki Ratu Rosari
picture of Choir Group from my church
Koor Paroki Ratu Rosari

Belum 12 jam yang lalu gua merasakan titik puncak pencapaian minggu ini. Hasil latihan musik selama hanya 2 minggu, ditampilkan dengan baik, lancar. Nikmat dirasakan para umat, wajah kami merah berseri, semua orang senang. Lalu pulang, makan, chatting, tidur, bangun, nongkrong, kosong. Bahkan pembukaan post ini hambar.


Gua pernah menyimpulkan, cara orangtua merawat anak—untuk mencapai anak yang dianggap sukses— adalah grafik lurus dalam bidang biaya dan usaha.
(a)Tinggi di awal, rendah di akhir.

(b)Lurus datar.

(c)Rendah di awal, tinggi di akhir.

(a) Orangtua yang memberi modal besar, atau talenta besar kepada anaknya sejak kecil, akan dengan mudah membimbing—atau membiarkan— si anak yang mulai dewasa untuk mencapai hidup sukses. Modal, entah itu susu berkualitas bagus, sekolah mutu tinggi, pendidikan moral-etika dalam rumah, stimulus pemikiran yang baik(dalam ideologi pilihan orang tua, ideologi si anak mungkin berubah), atau bisa dimulai sebelum anak itu lahir, dengan memilih pasangan dengan paras indah dan otak encer.

(b) Orangtua yang terus menerus memanjakan anaknya, akan terus mengeluarkan biaya besar sepanjang gendong ayunan si anak di pundak orangtua, dalam kasus ini, kemungkinan gendong itu bertahan seumur hidup. Grafik lurus, bukan berarti usaha yang dikeluarkan adalah tengah-tengah dari (a) dan (c), tapi bergantung dari modal awal (b). Orangtua yang memanjakan anaknya mengeluarkan modal awal besar? Pengeluaran dengan jumlah sama akan berlanjut.

(c) Orangtua yang pada awal pertumbuhan anak, abai dan tidak segera memberi modal yang baik, lalu si orangtua sadar dan berusaha membuat anaknya mencapai kesuksesan. Usaha yang dikeluarkan akan sangat besar, berkali lipat dari usaha awal orangtua.

Hasil akhir, mungkin usaha berhasil dan anak menjadi sukses, tentu dengan karakter yang berbeda-beda. Yang satu mandiri, yang lain manja, pemberontak. Aktif, pasif, introvert, ekstrovert, atletis, obesitas, atau hasil produk akhir yang berbeda-beda.

Menurut gua, cara (a) adalah yang terbaik, bisa kamu lihat, grafik rendah di akhir bukanlah tanda kemalasan orangtua, tetapi berkurangnya usaha yang diperlukan orangtua untuk mengurus anak. Anak mengurus dirinya sendiri.

Tentu saja anak yang merasa bosan dengan modal yang dicurahkan orangtuanya bisa jadi keluar dari gaya hidup tersebut, dan membuat hidupnya sendiri dan jalannya menuju sukses. Ada juga anak berbakat, yang dengan mudah menuju kesuksesan bagaimanapun cara orangtua mendidiknya. Hal yang lupa gua tambahkan, tolak ukur sukses akan berbeda bagi orang-orang, tapi secara general, sukses adalah hidup bahagia.


Beberapa teman gua terus menanyakan gaya hidup yang gua lakukan, berusaha mencari faktor-x gua bisa menjadi (menurut mereka) tinggi, cepat tanggap, ataupun aktif, atau hal lain yang tidak mereka miliki tapi gua miliki. Merespon hal tersebut, gua menceritakan gaya hidup gua yang biasa saja, sambil berpikir, padahal ada hal yang tidak gua miliki tapi mereka miliki.

Untuk masalah postur tubuh, gua tau genetik berperan besar dalam tinggi, berat badan atau massa otot yang gua miliki. Untuk kemampuan otak dan skill, gua yakin hal tersebut didapat dari hasil gua menekuni hobi. Hobi gua, membaca, mengulik lagu, menggambar, lari, seni. Beberapa hobi gua tekuni dengan sangat, sehingga skill gua dapat dengan cara menyenangkan, sedangkan imitator gua, dengan suntuk dan lelahnya, menjalani kegiatan untuk meraih hal yang gua miliki.

Gua sendiri, dengan suntuknya, menjalani kegiatan olahraga beregu, atau berkomunikasi dengan baik. Karena hal tersebut bukan gairah gua, tapi gua sadar hal tersebut harus dilakukan karena pencapaiannya akan berguna bagi kelangsungan hidup gua. Terutama berbicara dengan baik.


Gua mengenal band efek rumah kaca sejak lama, mungkin 2008, masa awal gua menjelajah saluran radio FM. Dimulai dengan “Jatuh Cinta itu Biasa Saja” “Debu-debu Berterbangan” dan “Kenakalan Remaja di Era Informatika”.

Sekarang, Sinestesia menjadi suara latar dalam pembuatan post ini. Biar bagaimanapun, “Putih” tetap menjadi lagu favorit dalam album tersebut. Mungkin karena lagu ini merupakan single yang pertama gua dengar dari calon album Sinestesia. Mungkin karena tema kematian yang menjadi intro lagu, dan digarap dengan apik, gelap, mistis.

Tema kematian dalam seni memiliki tempat sendiri dalam hal keseleraan gua. Dalam lagu yang sebelumnya dibahas—“Putih”, video klip lagu “November Rain”, film “Bridge to Terabithia” dan “Lion King”. Tema tersebut gua tafsir sebagai permulaan dalam menjalani hidup. Hal itu tidak berhubungan dengan budaya reinkarnasi, atau takut dalam menghadapi kematian. Tema kematian menjadi pendorong agar gua bisa melampaui keterbatasan yang gua miliki saat itu. Keterbatasan dalam hal kepunyaan, contohnya skill, cara pikir, harta, apapun. Menjadi semacam penyemangat. Orang lain mengartikan hal tersebut sebagai “lakukanlah sebaik mungkin selagi kematian menjelang”.


Sinestesia sudah tak lagi didendangkan dvd player, dan gua rasa kebosanan gua mulai berkurang sedikit. Saat ini hari Kamis, 5 Mei 2016 jam 23:28, dan gua sedang tidak dalam mood untuk nongkrong, nonton, maupun makan. Gua harus mencari kesibukan yang berguna, karena hari Jumat menjelang.

Dengan sangat, gua berharap kalian tidak merasa bosan.
Sampai Jumpa. До Свидания.


Bangkit

- #indonesian#blog

Hola!
Lama tak jumpa!
Apa kabar kalian?
Baik baik saja kan?

Lebih dari satu bulan lewat sudah sejak gua dan teman-teman kantor berpisah. Gua yang baru terbiasa dengan budaya ngantor pulang pergi mengikuti arus.

Sebenernya gua ketik kata ‘Hola!’ di atas tanpa tahu topik apa yang akan dibahas di post ini, tapi setelah paragraf kedua, gua dapet ide. Kenapa kita–entah hanya orang Indonesia atau non Indonesia juga demikian– terbiasa mengatakan kebalikan daripada praktiknya?
Gak paham maksud gua? Coba lihat ini, pulang-pergi. Nangkep maksudnya?

Kita mengatakan pulang pergi, selagi nyatanya kita melakukan pergi, diikuti kegiatan pulang. Tidak akan ada kegiatan pulang tanpa adanya kepergian. Juga, gua pikir, kata pulang tidak akan tercipta tanpa ada orang yang berani mengangkat pantat malasnya meninggalkan zona nyaman bernama sofa, di sebelah perapian rumahnya menuju semesta tak terjelajah di luar gerbang desa.

Hal tersebut(pengucapan terbalik) juga benar adanya dengan kurang-lebih, dan datang-tak-dijemput-pulang-tak-diantar. Tanda kurang lebih adalah tanda plus di atas tanda minus, tapi orang mengucapkannya tidak sesuai hirarki, mereka ucapkan dari bawah ke atas. Hal ini bisa jadi tanda pemberontakan kaum bawah terhadap atasannya. Contoh terakhir malah lebih aneh, karena orang yang datang berkunjung, adalah diantar dari rumahnya, dan pulang menunggu jemputan. Jika gua telaah, hal ini mungkin berhubungan dengan kebiasaan manusia yang mengatakan tidak sesuai kenyataan, pembohong. Mungkin hal ini sepele, tapi seperti kata ibu, kebiasaan buruk di rumah akan terbawa ke luar, maka sikap jelek kita akan terbawa dalam ucapan.

Dewasa ini, banyak orang yang mulai mengoreksi ucapan mereka dan mengatakan lebih-kurang atau pergi-pulang. Gua pikir ini adalah tanda kesadaran orang akan kesalahan dan sikap buruk mereka selama ini. Tapi, apakah tindakan mengoreksi ucapan ini adalah hal positif, yaitu orang sadar akan kesalahannya dan diperbaiki, atau negatif, orang yang sadar menutupi kesalahan mereka selagi tetap berhati korup? Apakah ini tanda bahwa orang semakin canggih dalam memutarbalikkan fakta dan menutup-tutupinya, bermain aman selagi uang kotor tetap mengalir ke rekening? Gua berharap yang terbaik.

Hal yang tetap aneh, adalah tidak ada yang mengoreksi menjadi datang-tak-diantar-pulang-tak-dijemput. Frase tersebut berhubungan dengan hal mistis, yakni permainan Jelangkung. Gua pikir, hal tersebut adalah tanda bahwa orang tidak bisa lepas dari takhayul, dan bermain aman dengan tidak mengusik hal mistis yang sudah menjadi kebiasaan. Bahkan para pemberontak dan para pembohong takut mengusik mantra jelangkung. Bahkan penjahat takut hantu.

Penutup, gua himbau kalian tetap hidup baik, dan apa adanya.
Karena bersikap jahat merugikan kita.
Semoga kalian paham.
Salam.